Istiqomah Walaupun Sedikit

Amal ibadah yang paling dicintai allah adalah amal yang terus menerus dikerjakan meskipun sedikit. (HR.muslim)

Istiqomah adalah kunci dalam menjalankan suatu amal ibadah. Bukan hanya seberapa banyak ibadah yang kita kerjakan, lebih jauh lagi adalah seberapa sering (istiqomah) kita dalam menjalankan ibadah dan amalan tersebut.

Suatu ketika, ‘Aisyah RA pernah ditanya oleh ‘Alqomah tentang apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghususkan hari-hari tertentu untuk beramal. ‘Aisyah menjawab “Beliau tidak menghususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (dilakukan terus menerus).

Selain itu, dalam melakukan suatu amal ibadah tentu saja kita mengharapkan bahwa amal yang kita kerjakan akan diterima oleh Allah SWT. Salah satu bentuk diterimanya amalan yang kita kerjakan adalah melahirkan amalan berikutnya, yang artinya jika keta mengerjakan amalan tersebut secara kontinu (istiqomah). Sebaliknya, jika kebaikan yang kita lakukan justru melahirkan keburukan, hal tersebut bisa jadi adalah tanda tertolaknya amalan yang kita perbuat.

Sebagian ulama salaf mengatakan, “Diantara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya, dan diantara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya”.

Lebih jauh lagi, Hasan Al Bashri mengatakan, “Jika syaithon melihatmu kontinu dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithon melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaithon pun akan semakin tamak untuk menggodamu.”

Dari beberapa penjalasan tersebut menunjukkan bahwa kita sangat dianjurkan melakukan amalanyang bias akita lakukan secara rutin, terus-menerus dan istiqomah. Juga, kita tidak dianjurkan, memutus atau meninggalkan amalan yang kita kerjakan dan tidak mengerjakannya lagi.

Lalu, kenapa kita harus Istiqomah dalam melakukan amal perbuatan?

Selain karena hal tersebut sangat dianjurkan oleh para ulama, istiqomah juga melahirkan hikmah-hikmah yang sangat berharga bagi kita. Ketika kita melakukan amalan yang istiqomah, walaupun itu sedikit, hal itu akan membuat amalan akan terus menerus ada dan eksis.

An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit namun rutin dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma sesekali saja dilakukan. Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah, niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh Sang Kholiq Subhanahu wa Ta’ala. Amalan sedikit yang rutin dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan.”

Amalan yang dilakukan secara istiqomah juga akan terus menerus mendapat pahala. Jika kita melakukan amalan yang banyak tetapi hanya sekali, maka pahalanya juga akan berhenti saat itu juga. Sedangkan jika amalan itu dilakukan terus-menerus, maka pahalanya juga akan mengalir terus menerus, walaupun sedikit.

Amalan yang sedikit tetapi kontinu akan mencegah masuknya virus ”futur” (jenuh untuk beramal). Jika seseorang beramal sesekali namun banyak, kadang akan muncul rasa malas dan jenuh. Sebaliknya jika seseorang beramal sedikit namun ajeg (terus menerus), maka rasa malas pun akan hilang dan rasa semangat untuk beramal akan selalu ada. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk beramal yang penting kontinu walaupun jumlahnya sedikit. Kadang kita memang mengalami masa semangat dan kadang pula futur (malas) beramal. Sehingga agar amalan kita terus menerus ada pada masa-masa tersebut, maka dianjurkanlah kita beramal yang rutin walaupun itu sedikit.

Semoga Allah menganugerahi kita amalan-amalan yang selalu dicintai oleh-Nya. Hanya Allah yang memberi taufik. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya setiap kebaikan menjadi sempurna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 3 =